Loading Events

Musik

Wasteland

PlayPause
Slider

Penampil: Sandikala Ensemble dan Gerald Situmorang
Kolaborator: Sri Hanuraga
Sabtu, 04 Februari 2023, 20:00 WIB
Teater Salihara

Tiket
Rp75.000 (umum)
Rp50.000 (pelajar)

Durasi: 45 menit

Sandikala Ensemble adalah grup dengan format yang banyak menggunakan instrumen gamelan. Dion Nataraja adalah komponis sekaligus direktur artistik Sandikala Ensemble, grup ini menawarkan konsep yang lebih dalam pada improvisasi instrumen gamelan dan jazz. Grup ini tidak sekadar mencampurkan instrumen gamelan dan instrumen lain yang biasa digunakan dalam jazz, melainkan mencari titik temu yang lebih dalam, seperti mengeksplorasi konsep pathetan dalam gamelan ke improvisasi yang lebih bebas. Eksperimen ini tertuang dalam karyanya Herutjokro as Posthuman.

Sandikala Ensemble bersama dengan Gerald Situmorang akan menciptakan mikro tonalitas untuk tuning pada gitarnya. Sandikala Ensemble juga mencoba menggunakan harmoni dari eksplorasi teknik musik spektral, yaitu pendekatan teknik komposisi dengan menggunakan analisis timbre (warna) sebagai basis materi komposisi. Pada konser di Jazz Buzz 2023 ini, Sandikala Ensemble akan berkolaborasi dengan musisi senior Sri Hanuraga dalam karya Hyperkembangan III dan Improvisasi I.

 

Profil Penampil

Sandikala Ensemble adalah sebuah grup asal Yogyakarta yang ekspresi musikalnya mengembangkan teknik eksperimental melalui instrumen gamelan baru, yang bertujuan memperluas cakrawala musik gamelan kontemporer. Sandikala Ensemble yang diinisiasi oleh Dion Nataraja dan Yustiawan Paradigma Umar berdiri pada 2021. Dion Nataraja sebagai komponis sekaligus direktur artistik Sandikala Ensemble yang saat ini sedang menyelesaikan program doktoralnya di University of California, menawarkan konsep yang lebih dalam pada improvisasi gamelan dan jazz. Para musisinya adalah Dwi Ariyanto, Muhammad Khoirur Roziqin, Mustika Garis Sejati, Suseno Setyo Wibowo dan Gerald Situmorang. Karya-karyanya antara lain adalah Herutjokro as Posthuman (2020), Hyperkembangan X (2020) dan Kafka, Postmortem (2022). Sandikala Ensemble dengan estetika musikalnya yang selalu bereksperimen telah menciptakan instrumen baru yaitu empat Gender (dua Gender Barung dan dua Gender Penerus) dengan sistem penalaan 36 nada (non-octave tuning system).

Dion Nataraja adalah seorang komponis, peneliti, dan seniman asal Indonesia. Saat ini dia sedang belajar komposisi musik jenjang MA-PhD di University of California Berkeley, Amerika Serikat. Karya-karya musik dan ilmiahnya berfokus pada persimpangan antara bidang-bidang, seperti musik spektral, gamelan Jawa, improvisasi, instrumen baru, komposisi algoritmik, posthumanisme, studi poskolonial, dan teori kritis. Komposer dan pianis Anthony Cheung mendeskripsikan musik Dion sebagai “a true intercultural music for our time”. Ia pernah mengikuti masterclass dan belajar dengan musisi dari berbagai genre, di antaranya Nick Brooke dan Steve Lehman. Saat ini ia sedang belajar dengan Edmund Campion dan Ken Ueno. Pada 2020, ia dianugerahi sebagai finalis kompetisi komposer baru Talea Ensemble. Musiknya telah dimasukkan sebagai bagian dari silabus kursus Brown University berjudul “Asian Musical Modernisme”. Ia juga telah memberikan kuliah di beberapa tempat, seperti di California Institute of the Arts dan Salihara Arts Center. Saat ini ia memfokuskan karyanya pada Sandikala Ensemble.

Gerald Situmorang telah merilis sejumlah album, beberapa di antaranya album tunggal Solitude (2016) serta Dimensions (2017) yang meraih “Album Choice of the Year” dari 40th Jazz Goes to Campus dan “Instrumental Album of The Year” dari Indonesian Choice Awards 2018. Atas dua album tersebut pula ia meraih penghargaan Anugerah Musik Indonesia (AMI) 2017 dan 2018 untuk kategori “Karya Produksi Instrumental”. Selain album tunggal, ia juga merilis album Taifun (2015) bersama band Barasuara dan album terbaru Meta (2019), duet bersama Sri Hanuraga.

Profil Kolaborator

Sri Hanuraga adalah pianis dan musisi, ia menamatkan studi program master piano jazz di The Conservatorium van Amsterdam, Belanda pada 2011 dengan predikat summa cumlaude. Ia kerap pentas di festival-festival musik penting dengan banyak seniman internasional dan musisi Indonesia terkemuka. Salah satu album musiknya adalah To The Universe (2015). Ia telah meraih sejumlah penghargaan internasional maupun nasional seperti soloist prize di East of Eastern Jazz Festival, Nijmegen (2006), The European Keep an Eye Jazz Award 2011 untuk kategori “Best Band” bersama Daniel Master Quartet dan Anugerah Musik Indonesia (AMI) 2016 untuk kategori Artis Jazz Instrumental Terbaik dan Artis Jazz Kontemporer Terbaik pada Anugerah Musik Indonesia 2022. Selain bermusik, ia mengajar di Universitas Pelita Harapan (UPH).

Shopping Basket