Loading Events

Zoom In

Seni Rupa Indonesia & Internasionalisme Baru

Zoom In: Sesi 1 - Rp 50.000
Zoom In: Sesi 2 - Rp 50.000
Zoom In: Sesi 3 - Rp 50.000
Zoom In: 3 Sesi (diskon 10%) - Rp 135.000
Kursi tersedia 218
PlayPause
Slider

Pembicara: Alia Swastika & Ade Darmawan, Jim Supangkat & Farah Wardani, Agung Hujatnikajennong & Asep Topan
Rabu, 21 Oktober, 11 & 25 November 2020, 19.00 WIB 
Webinar Komunitas Salihara
Tiket: Rp 50.000/orang/sesi (diskon 10% untuk pembelian tiga sesi)
Durasi: 2 jam/sesi

 

Apakah sejarah seni rupa modern Indonesia hanya dilihat sebagai bagian dari sejarah nasionalisme? Bukankah sejak awal ada faktor-faktor internasional yang berperan dalam pembentukan dan perkembangan seni rupa modern kita? Seperti apa konkretnya?

Diskusi tiga sesi ini membahas bagaimana faktor-faktor internasional, baik secara kelembagaan maupun kreativitas, mempengaruhi geliat seni rupa modern kita. Bersama para pembicara yang berasal dari beragam latar belakang, kita dapat mempelajari perkembangan seni rupa modern Indonesia berdasarkan peranan internasionalisme, mulai dari yang terkini sampai pada masa sebelumnya.

Acara ini mendapat dukungan dari Dana Bantuan Internasional Kementerian Luar Negeri Jerman, Goethe-Institut dan mitra-mitranya. Informasi: www.goethe.de/relieffund

Materi Diskusi

Sesi 1: Sejak Venice Biennale 2013 hingga Documenta 15 2022
Pembicara: Alia Swastika & Ade Darmawan
Rabu, 21 Oktober 2020, 19:00 WIB

Sesi 2: Kehadiran Indonesia di Pusat-Pusat Baru
Pembicara: Jim Supangkat & Farah Wardani
Rabu, 11 November 2020, 19:00 WIB

Sejak pertengahan 1990-an, seni rupa Indonesia memasuki babak penting, yaitu keterlibatan para perupa di kancah internasional. Sejumlah pameran penting seperti Asia Pacific Triennale (APT) di Brisbane, Australia, Fukuoka Triennale di Jepang, Havana Biennale di Kuba, Gwangju Biennale di Korea Selatan, menghadirkan karya-karya kontemporer Indonesia. Babak baru ini sesungguhnya terjadi melalui proses yang tak mudah.

Diskusi sesi kedua ini membahas proses dan pengalaman pada masa tersebut. Jim Supangkat dan Farah Wardani mengajak kita melihat kembali faktor-faktor apa yang memungkinkan bangkitnya kekuatan alternatif di sejumlah kantong-kantong seni di Indonesia. Bagaimana para perupa muda bersikap terhadap institusi pendidikan seni; bagaimana ruang-ruang seni alternatif menjalankan kurasi yang baru; bagaimana “nasionalisme budaya” beralih kepada pluralisme dan pascamodenisme?

Sesi 3: Internasionalisasi dari Institusi-institusi di Indonesia
Pembicara: Agung Hujatnikajennong & Asep Topan
Rabu, 25 November 2020, 19:00 WIB

Internasionalisme Baru juga harus dilihat dari perkembangan lembaga-lembaga (swasta) seni rupa di Indonesia yang mengadopsi arus internasional terkini. Artjog di Yogyakarta, Museum Macan di Jakarta, Jatiwangi Art Factory di Jatiwangi (Jawa Barat) dan Rumah Seni Cemeti di Yogyakarta adalah beberapa lembaga yang menyatukan diri ke dalam arus internasional hari ini.

Diskusi sesi ketiga ini membahas bagaimana faktor-faktor swasta tersebut menumbuhkan kreativitas dan apresiasi seni rupa di dalam negeri, sekaligus mendorong internasionalisasi lebih cepat. Kita juga ingin tahu bagaimana para aktor swasta membangun jejaring dengan dunia luar. Bagaimana institusionalisasi (dan internasionalisasi) swasta ini tumbuh dalam rentang waktu sejak seni rupa kita melepaskan diri dari prinsip “kepribadian nasional” hingga sekarang ini.

Tujuan

• Memperluas lebih jauh wawasan seni rupa, khususnya wawasan dan pengetahuan yang tidak banyak dibicarakan bahkan di kalangan seni rupa Indonesia sendiri;
• Kita mampu memahami konteks internasionalisme dalam seni rupa Indonesia, salah satunya bagaimana internasionalisme bermain dan dimainkan di dalam seni rupa kita?

Siapa yang Cocok Ikut Diskusi Ini?

• Publik yang sudah terbiasa mengunjungi peristiwa seni rupa di museum-museum dan art fairs;
• Siapa saja yang tertarik pada seni rupa Indonesia dan kesejarahannya;
• Penggiat, penikmat dan penulis seni rupa.
Shopping Basket