Loading Events

Zoom In

Rupa Bangsa: Seni Rupa Modern dan Nasionalisme (di) Indonesia

Zoom In All Tickets (Disc 10%) (TIKET HABIS) - Rp 180.000
Zoom In Sesi 4 - Rp 50.000
Zoom In Sesi 5 - Rp 50.000
Zoom In Sesi 6 - Rp 50.000
Zoom In Sesi 7 - Rp 50.000
Kursi tersedia 177
PlayPause
Slider

Pembicara: Agus Burhan & Jean Couteau, Bayu Genia Krishbie & Suwarno Wisetrotomo, Antariksa & Gadis Fitriana, Aminudin Th. Siregar & Dikdik Sayahdikumullah
Rabu, 10 & 24 Februari, 17 & 31 Maret 2021, 19.00 WIB
Zoom Webinar Komunitas Salihara

Tiket: Rp 50.000/orang/sesi (diskon 10% untuk pembelian empat sesi)
Durasi: 2 jam/sesi

Nasionalisme adalah tema yang ditegakkan dan diperdebatkan oleh para seniman dan kritikus pada tahun 1930-an. Bagaimana ide nasionalisme ini tumbuh dan berkembang dalam kancah seni rupa di Indonesia?

Melanjutkan seri Zoom In tahun lalu yaitu tentang Internasionalisme Baru, kali ini kita akan membahas keterkaitan ide nasionalisme dengan perkembangan seni rupa modern Indonesia dari masa ke masa.

Bersama para narasumber dari berbagai latar belakang, diskusi ini mengupas berbagai sudut pandang menarik mengenai paham, pemikiran, wacana, serta teori yang membentuk lanskap seni rupa kita hari ini.

Materi

Sesi 4: Melihat Kembali Masa 1950-1970-an: Pasang Naik Perebutan Keindonesiaan
Pembicara: Agus Burhan & Jean Couteau
Rabu, 10 Februari 2021, 19.00 WIB

Di era seni rupa hari ini yang serba kontemporer, identitas nasional barangkali adalah ide yang mulai terabaikan. Tapi sekitar 1950-1970an, identitas nasional justru menjadi nilai yang dipegang oleh institut kesenian, seni dan kritik seni. Bersama Agus Burhan dan Jean Couteau kita diajak melihat kembali perkembangan dan pergolakan seni rupa pada 1950-1970-an. Nilai keindonesiaan seperti apa yang sesungguhnya dicari para seniman dan kritikus? Dan mengapa nilai keindonesiaan itu begitu dicari?

Sesi 5: Melihat Koleksi Negara: Upaya Membangun Historiografi Seni Rupa Nasional
Pembicara: Bayu Genia Krishbie & Suwarno Wisetrotomo
Rabu, 24 Februari 2021, 19.00 WIB

Apakah koleksi seni rupa yang sering kita lihat di lembaga-lembaga negara adalah bentuk manifestasi merekam identitas nasional? Misalnya, koleksi Istana yang bercorak Mooi Indië; koleksi Galeri Nasional yang memperlihatkan sejarah seni rupa modern; maupun koleksi yang kerap ditemui di Museum Nasional, Kedutaan Besar Indonesia dan lembaga-lembaga lain. Di sesi diskusi kelima ini, Bayu Genia Krishbie dan Suwarno Wisetrotomo mengajak kita melihat bagaimana peranan dan strategi negara dalam membangun identitas Indonesia melalui koleksi seni rupa.

Sesi 6: Menggali ke Zaman Pendudukan Jepang: Asal-usul Pembangunan Identitas Nasional
Pembicara: Antariksa & Gadis Fitriana
Rabu, 17 Maret 2021, 19.00 WIB

Pada masa Pendudukan Jepang (1942-1945), para seniman Indonesia membangun sebuah “strategi budaya” di bawah Keimin Bunka Shidoso (Kantor Pusat Kebudayaan) sebagai bentuk perlawanan terhadap kolonialisme. Keimin Bunka Shidoso mendukung seniman-seniman Indonesia untuk menggali dan memperkembangkan identitas ketimuran-keindonesiaan.

Tapi pertanyaan besarnya: apakah para seniman Indonesia ketika itu dengan “sukacita” berada berkiprah dalam propaganda Jepang tersebut? Bersama Antariksa dan Gadis Fitriana kita akan mengupas asal-usul tumbuhnya identitas nasional di masa Pendudukan Jepang. Bagaimana Keimin Bunka Shidoso mewadahi aspirasi seniman kala itu dan apa warisannya untuk kemudian hari?

Sesi 7: Menimbang Asal-usul Seni Rupa Modern Indonesia: Di Seberang Persagi dan Mooi Indië
Pembicara: Aminudin Th. Siregar & Dikdik Sayahdikumullah
Rabu, 31 Maret 2021, 19.00 WIB

Membahas perkembangan panjang seni rupa modern Indonesia tentu tak lepas dari perdebatan mengenai lukisan Mooi Indië. S. Sudjojono, pelopor seni lukis modern Indonesia, mengecam lukisan Mooi Indië karena terlalu mewakili selera kolonial. Tetapi ketika karya-karya dan pemikiran Sudjojono saat itu dianggap terlalu “elitis”, Sukarno menjadi tokoh yang mengoleksi serta menyebarluaskan lukisan Mooi Indie.

Bersama Aminudin Th. Siregar & Dikdik Sayahdikumullah kita akan menelusuri kembali temuan dan perspektif baru dalam telaah awal-mula seni lukis modern di Indonesia pada masa pra-Jepang. Diskusi ini hendak melihat kembali akar-akar seni rupa modern dan perdebatan konteks nasionalisme dalam seni rupa kala itu.

Tujuan

● Memperluas lebih jauh wawasan seni rupa, khususnya wawasan dan pengetahuan yang tidak banyak dibicarakan bahkan di kalangan seni rupa Indonesia sendiri;
● Mengenal dan memahami secara lebih mendalam ke masa lalu seni rupa modern Indonesia.

Siapa yang Cocok Ikut Diskusi Ini?

● Publik yang sudah terbiasa mengunjungi peristiwa seni rupa di museum-museum dan art fairs;
● Siapa saja yang tertarik pada seni rupa Indonesia dan kesejarahannya;
● Penggiat, penikmat dan penulis seni rupa.

Profil Pembicara

Aminudin Th. Siregar menyelesaikan Pascasarjana di Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung. Ia sempat aktif bekerja sebagai ajun kurator di The National Gallery of Singapore selama satu tahun. ia juga aktif penulis buku dan kritikus seni rupa. ia pernah mengikuti sejumlah lokakarya, di antaranya di Museum and Cultural Heritage (2014) di Belanda dan Reconciliation and Cultural Recovery Program (2014) dari Australian Award Fellowship di University of Melbourne, Australia.

Antariksa adalah peneliti sejarah pergerakan dan perubahan gagasan seni rupa di Asia Tenggara pada masa Pendudukan Jepang. Penelitiannya telah dipresentasikan dalam pameran dan proyek seni rupa di berbagai tempat, di antaranya Villa Vassilieff (Prancis, 2017), Fondation Maison des sciences de l’homme (Prancis, 2017), Luma Arles (Prancis, 2018), Sharjah Biennial (United Arab Emirates, 2018-2019), dan Asian Art Biennial (Taiwan, 2019-2020). Antariksa adalah anggota-pendiri Kunci Study Forum & Collective, Yogyakarta.

Bayu Genia Krishbie adalah kurator internal (in-house curator) di Galeri Nasional Indonesia. Tahun 2015, ia mengikuti lokakarya pengembangan kurator muda Jepang dan Asia Tenggara “Condition Report” yang diinisiasi oleh The Japan Foundation Asia Center. Beberapa pameran yang pernah ia tangani antara lain Mode of Liaisons di Bangkok Art and Culture Center (2017) dan Pameran Imersif Affandi Alam Ruang Manusia di Galeri Nasional Indonesia (2020).

Dikdik Sayahdikumullah menyelesaikan program doktor bidang seni lukis di Kyushu Sangyo University, Fukuoka, Jepang. Selain aktif sebagai seniman, ia juga aktif mengajar di Studio Drawing dan Seni Lukis di Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung.

Gadis Fitriani memperoleh gelar Magister Konservasi Benda Budaya di University of Melbourne dengan spesialisasi bidang konservasi dan studi material karya seni lukis. Tahun ini ia akan mempresentasikan sebagian dari tesis magisternya yang berjudul Art Materials Availability in 20th century Southeast Asia: Japan-Occupied Indonesia, 1942-45 di forum International Convention of Asia Scholars (ICAS).

Jean Couteau merupakan seorang pengamat seni dan budaya asal Prancis yang kini tinggal di Bali. Jean menulis beberapa buku, beberapa judul di antaranya adalah Bali Inspires: The Rudana Art Collection (2011); Time, Rites and Festivals in Bali (2014); Buna: Suka Duka Sang Kelana (2017); dan Myth, Magic, and Mystery in Bali (2017). Ia juga menulis tentang tokoh-tokoh seniman Indonesia seperti Affandi, Srihadi Soedarsono, Amrus Natalsya hingga Made Wianta.

Agus Burhan adalah dosen di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dan Pascasarjana di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Ia menyelesaikan gelar pascasarjana dan doktoralnya di Universitas Gadjah Mada dengan program studi Sejarah Seni. Ia sempat menjadi kurator Galeri Nasional Indonesia tahun 2002-2012. Selain mengajar, ia juga giat meneliti dan melukis.

Suwarno Wisetrotomo adalah dosen Program Studi Seni Murni dan Pascasarjana di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, serta Program Studi Seni Pertunjukan dan Seni Rupa Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Pada tahun 2015 ia meraih gelar doktoralnya di Program Studi Kajian Budaya dan Media, Sekolah Pascasarjana, UGM, Yogyakarta. Ia juga turut aktif bergiat dalam berbagai organisasi dan kegiatan seni, kurator pameran, serta menulis buku dan esai kritik.

 

 

Shopping Basket