Loading Events

Pertunjukan daring

Pertunjukan daring Musim Seni Salihara 2022

PlayPause
Slider

Pertunjukan daring Musim Seni Salihara dapat beli mulai 27 Juli 2022. Anda hanya cukup membeli 1 akun seharga Rp50.000 untuk menonton 7 (tujuh) pertunjukan daring berikut:

Tari
13 Tongues
Cloud Gate (Taiwan)

19, 26 Agustus 2022 | 20:00-23:00 WIB
03 September 2022 | 14:00-17:00 WIB

Cheng Tsung-lung selalu terpesona oleh cerita ibunya tentang “Thirteen Tongues”, seorang seniman jalanan pada 1960-an. Pendongeng legendaris ini dikatakan mampu menggambarkan peran ganda dari semua lapisan masyarakat di Bangka, distrik tertua di kota Taipei yang kaya dengan kuil, upacara ritual, dan parade meriah. Dalam 13 Tongues, Cheng mengubah ingatan masa kecilnya tentang ritual Tao dan hiruk pikuk kehidupan jalanan Bangka menjadi dunia fantasi. Suara metalik lonceng menghasilkan soundscape yang menyatu dengan lagu rakyat Taiwan, lagu nakashi Jepang, dan musik elektronik. Cheng melalui 13 Tongues menciptakan proyeksi yang mengingatkan pada warna kuil, dengan menampilkan penari yang bergerak pada pola tertentu dan memantulkan fluoresen pada kostum mereka. Karya ini membawa pada perjalanan seperti dalam kisah “Thirteen Tongues”, ketika hubungan antara lingkungan, dewa, roh, dan manusia menjadi tanpa batas.

Musik
GENETIC
Dewa Alit dan Gamelan Salukat

06 Agustus – 04 September 2022

Karya ini berangkat dari sebuah ide genetik yang dilihat sebagai transformasi bentuk. Dewa Alit menggunakan dua pendekatan. Pertama, menelusuri unsur-unsur partikel yang merupakan cikal-bakal proses terbentuknya pola-pola atau motif-motif musikal. Mulai dari membuat formula dalam bentuk susunan pola-pola, mengubah pola-pola yang sudah tersusun sebelumnya untuk menghasilkan bentuk dan bunyi yang bersifat baru. Kedua, uraian tentang perpaduan molekul-molekul sebagai ukuran dan model jalinan bunyi atau nada yang saling mengisi baik dalam skala kecil seperti cecandetan atau kotekan, maupun pada skala yang lebih besar seperti gending atau tabuh.

Musik
Ritual Bells, Global Gongs
Sinta Wullur (Belanda)

06 Agustus – 04 September 2022

Ritual perayaan hubungan Indonesia-Belanda.
Ritual Bells, Global Gongs adalah sebuah konser teatrikal yang memiliki nuansa Timur dan Barat. Sinta Wullur sebagai komponis Indonesia-Belanda, mengembangkan instrumen sekaligus menjembatani dua budaya. Konser ini menampilkan paduan suara dan penyanyi solo yang menyanyikan teks-teks sejarah dan puitis. Teks-teks sejarah yang ditampilkan menyoroti 350 tahun hubungan antara Indonesia dan Belanda dari perspektif yang berbeda. Musik dalam konser ini juga menampilkan musik baru yang diselaraskan dengan instrumen eksotis dan ritme dari budaya lain.

Pentas Bincang Musim Seni Salihara
Mengapa Seni Peran?
Penampil: Tatiek Maliyati

06 Agustus – 04 September 2022

Memahami seni peran tidaklah sama dengan mempelajari matematika atau fisika yang banyak mengandung kepastian. Hal ini menyebabkan awam kerap sembrono mengidentifikasi seni peran sebagai ilmu berpura-pura yang baik dan meyakinkan. Apakah memang demikian? Apakah sesungguhnya seni peran itu? Bersama Tatiek Maliyati, pentas bincang “Mengapa Seni Peran?” akan memperbincangkan ihwal teater dan seni peran. Terutama seni peran yang dikembangkan oleh lembaga pendidikan teater semacam Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI), tempat Tatiek belajar teater dan seni peran hingga selesai. ATNI adalah sebuah lembaga pendidikan teater yang penting setelah Indonesia merdeka. Bersama Studiklub Teater Bandung (STB) yang dipimpin oleh Suyatna Anirun dan Jim Adhi Limas, dua lembaga ini mempromosikan teater modern yang berwatak realisme—hal yang pernah digagas oleh Sandiwara Penggemar Maya pimpinan Usmar Ismail pada masa pendudukan Jepang—tetapi pada saat yang lebih kemudian juga mengakomodasi perkembangan teater absurd yang berkembang di dunia bersamaan dengan mewabahnya “demam eksistensialisme” dalam panggung teater dan sastra berbahasa Indonesia pada 1950-1960-an.

Teater
Butterfly Dream
Penampil: Arica Theater Company (Jepang)
Sutradara: Yasuki Fujita

06 Agustus – 04 September 2022

Pertama kali ditampilkan tanpa judul di Butterfly Pavilion, Niigata, Japan, pada 2009, Butterfly Dream adalah sebuah teater nirkata. Sang aktor, Takuzo Kubikukuri, telah menggantung lehernya dengan tali pada sebuah pohon di halaman rumahnya beberapa kali dalam sehari selama 20 tahun terakhir. Kendati demikian, aksi ini jauh dari kesan mati yang terkait dengan “gantung diri”. Ini lebih kepada ketulusan dalam menghadapi hidup. Tubuh yang tergantung itu melayang di angkasa, sesekali kembali ke bumi, kadang jatuh, kadang pula mengepak laksana rama-rama. Ia bukanlah ekspresi untuk dipertontonkan. Ia menyiratkan kedalaman hidup, yang berlawanan dengan maut, ditampilkan oleh seorang pencari yang menjelajahi sensasi tak bernama antara sakit dan ekstase.

Musik
Transducer
Speak Percussion (Australia)

06 Agustus – 04 September 2022

Proyek-proyek Speak Percussion yang ambisius dan tanpa kompromi itu adalah definisi musik perkusi Australia abad ke-21. Diakui masyarakat musik internasional sebagai yang terdepan dalam hal musik klasik kontemporer, musik eksperimental dan musik lintas disiplin, Speak Percussion senantiasa menggubah sendiri proyek-proyek ambisius tersebut, memesan karya-karya baru dari komponis kontemporer terkemuka serta menafsir ulang karya-karya besar dalam genre ini.

Teater
Monolog Sutan Sjahrir
Penampil : Rendra Bagus Pamungkas
Sutradara : Rukman Rosadi

06 Agustus – 04 September 2022

Sutan Sjahrir mendekam di penjara karena dituduh melakukan makar terhadap pemerintahan Sukarno pada 1962. Berlatar peristiwa tersebut, monolog ini menampilkan renungan Sutan Sjahrir tentang Revolusi Indonesia serta kehidupan pribadinya sebagai manusia politik.Suara Sutan Sjahrir patut kita dengan kembali hari ini di tengah Indonesia yang tengah menghadapi paham-paham sempit kesukuan, kedaerahan, dan keagamaan. Pertunjukan ini adalah produksi Komunitas Salihara dalam rangka memperingati 10 Tahun Komunitas Salihara. Karya ini perdana dunia di SIPFest 2018.

Tari
Cablaka
Koreografer : Otniel Tasman

06 Agustus – 04 September 2022

Cablaka adalah karya Otniel Tasman yang pertama kali dipentaskan pada SIPFest 2018. Di karya ini, perkawinan lengger dan dangdut koplo adalah fenomena yang diadopsi Otniel. Ia tetap mempertahankan struktur lenggeran, musik calung, cengkok dan karakteristik vokal Banyumasan, tetapi dengan sisipan gerak dan irama dangdut yang menimbulkan kesan erotik. Pencampuran ini adalah sebentuk pertahanan kesenian pinggiran terhadap dominasi kesenian adiluhung, selain manifestasi kelompok minoritas yang hendak menyintas. Pertahanan tersebut disampaikan Otniel Tasman dengan dialektik dan emosional.

Shopping Basket